Entri Populer

Rabu, 29 Desember 2010

cerpen : Wangi Kaki Ibu

KETIKA bibir dan
hidungnya menyentuh
punggung kaki yang
cokelat keriput itu, ia
merasakan air matanya
menetes. Membasahi
permukaan kulit yang
kisut. Terguling dari
tonjolan otot menuju
lingir telapak kaki,
sebagian ke sela jemari.
"Aku tahu, bukan kamu
yang membunuhnya,"
bisik serak seorang
perempuan tua, yang
kedua mata-kaki kanan
dan kirinya sedang ia
dekap.
Entah siapa yang
memberi kabar indah itu
ke telinga yang mungkin
tak sepenuhnya
berfungsi. Atau ada yang
langsung membisikkan
ke ceruk hatinya?
Membuat lelaki itu teringat
perjalanan yang
sesungguhnya tak
panjang, namun
dirasakan sangat berlarut-
larut. Semata oleh pikiran
yang kalang-kabut.
SUBUH retak melahirkan
fajar. Takbir menggema
di telinga, dari pelbagai
surau, yang terletak jauh
maupun dekat.
Dipantulkan oleh bening
embun. Membubung ke
awan-gemawan yang
parasnya sedang dipulas
rona lembayung. Angin
reda, membuat pohonan
yang belum menjelaskan
warna daunnya terdiam
tunduk, seperti sabar
menanti perintah
berikutnya. Di dalam
rongga dadanya yang
kurus, tampak dari
kemejanya yang terasa
demikian longgar, ada
sebersit ngilu berdesir.
Ia baru saja
meninggalkan stasiun
Tugu. Dengan langkah
bimbang, tak ubahnya
selembar daun kering
yang terseret angin, ia
merasa harus mengenali
kembali setiap ruang dan
benda yang dilalui. Toko-
toko yang berderet
memanjang ke Malioboro
masih menutup pintu.
Atau mungkin hari ini tak
akan membuka
dagangan, karena tiba
Lebaran. Jalan aspal yang
memiliki beberapa lubang
akibat genangan air, tak
berbeda dari kota yang ia
tinggalkan. Trotoar
dengan warna paving-
block yang tak sama
antara satu dengan yang
lain, tentu lantaran pernah
terbongkar di sana-sini.
Dan yang terhirup ke
dalam paru-parunya
adalah udara yang
menebarkan aroma
tersendiri: sisa malam
yang tersangkut dan
terlambat sirna.
Ini wajah kota kelahiran,
yang pernah
memberikan keindahan
masa kanak-kanak. Ketika
Janti masih berupa jalan
tanah berbatu. Ketika
Hotel Ambarukmo berdiri
paling megah dan
bergaya di Jalan Solo.
Dan Demangan
merupakan pusat jajan
dengan bakso, es buah,
sate, dan limun berwarna-
warni. Lalu ia, dulu sekali,
mengendarai sepeda
ringkih, selalu
menghabiskan hari-hari
Ramadan dengan
menyewa komik atau
membacanya di kios
persewaan itu sambil
menunggu magrib.
Terbayang dalam
kenangan: Barda
Mandrawata sebagai Si
Buta dari Gua Hantu.
Pendekar Bambu Kuning.
Gundala Putera Petir
karya Hasmi dari kota ini.
Peni sudah Mati. Ah, Peni!
Itu tokoh utama dalam
komik roman karya Jan
Mintaraga. Tokoh yang
sesungguhnya telah mati.
Dan seorang perempuan
lain telah menyamar
sebagai Peni, seolah-olah
masih hidup, tak berdaya
di atas kursi roda, namun
sanggup membongkar
kematian Peni yang
dilatari ketamakan atas
harta warisan...
Dan Peni, seseorang
yang seharusnya sangat
dicintai, kini juga telah
mati. Sejenak jemari
tangan kanannya
bergetar bagai diserang
tremor. Ia menggigil
bukan oleh dingin pagi
yang mengusap dada
kerempengnya. Tapi oleh
ingatan yang
membuatnya harus
pulang ke kota kelahiran.
Matanya memandang ke
segala arah. Ia mencari
becak. Ada beberapa
becak teronggok di ruas
jalur lambat Jalan
Pangeran Mangkubumi,
tapi pemiliknya masih
meringkuk dengan
sarung lusuh. Ah, apakah
mereka tak mendengar
suara takbir dari pengeras
suara masjid di sana-sini?
Ini hari Lebaran.
Seharusnya mereka
berkumpul dengan istri
dan anak di rumah
sumpek masing-masing.
Atau jika masih
bujangan, boleh juga
sesekali begadang di
surau demi hari yang
istimewa ini. Tapi,
kadang-kadang, Lebaran
memang memberikan
ironi kepada sejumlah
orang. Ketika seharusnya
sebuah hati digenangi
kebahagiaan, ada
sebagian yang mendapati
dirinya tenggelam dalam
duka paling dalam. Dia,
barangkali, menjadi salah
seorang di antara mereka.
Apakah sebaiknya
berjalan kaki ke Janti?
Tentu akan tiba kesiangan
di rumah, yang separo
dindingnya masih
bertahan dengan papan
kayu. Sepanjang
perjalanan tentu akan
berpapasan dengan
rombongan jamaah
shalat Ied. Tentu akan
banyak mata
memandangnya dengan
raut muka bertanya-
tanya. Siapakah lelaki
yang melangkah gontai
seperti tanpa tujuan itu?
Sebuah pertanyaan yang
tak mungkin terucapkan
dari wajah-wajah
gembira, yang bersinar
oleh cahaya kemenangan
Ramadan. Sebuah
pertanyaan yang lebih
baik sembunyi dalam hati
mereka, ketimbang
menyinggung perasaan.
Ini hari yang akan
dipenuhi oleh hati orang-
orang sabar, jiwa-jiwa
yang memaafkan. Bukan
untuk menyimpan tanda
tanya.
Maka ia memberanikan
diri untuk menggugah
seorang tukang becak
yang kebetulan sedang
menggeliat. Orang itu
tampak kaget, serentak
mengucek mata, dan
memandang langit yang
mulai semburat kuning.
"Antarkan aku ke Janti."
Penarik becak itu sedikit
termangu. Memandang
lurus ke wajah tirus.
"Apakah Sampean
merasa mengenalku,
Mas?"
Penarik becak itu tergesa
menggeleng. Kemudian
turun untuk berpindah
tempat ke belakang dan
mempersilakan calon
penumpangnya naik.
Udara pagi mengiringi
kayuhan yang masih
berat oleh beban kantuk.
Seperti sebuah pena yang
menggaris kertas
kosong, becak itu
meluncur dalam sunyi.
Kesunyian yang sebentar
lagi pecah oleh para
jamaah dari banyak gang
perumahan.
Sepanjang jalan, lelaki di
dalam becak itu berpikir:
apakah ini keputusan
yang benar?
Mengunjungi Ibu untuk
menyampaikan
kegagalan? Ia gemetar
bagai demam, dan
ingatan tentang sebuah
malam jahanam melintas
begitu keras di benaknya.
CAHAYA bolam lima
belas watt sejenak
terhalang bayang, seperti
padam seketika.
Membuat matanya
mendadak terbuka.
Menyadari ada seseorang
masuk ke dalam
kamarnya yang tak
pernah dikunci, ia segera
bangkit duduk. Waspada.
"Maaf, aku mengganggu.
Tapi ini sungguh penting.
Aku menemukan Peni!"
"Oh," lelaki tuan rumah
itu mengusap matanya.
Kata "Peni" terdengar
sangat penting di
telinganya. Ia meraih
gelas di samping tempat
tidur dan segera minum
air putih yang tersisa.
"Di mana?"
"Maaf, jangan
membuatmu kaget. Di
sebuah klinik
tersembunyi, tempat
aborsi."
"Astaghfirullah."
"Apa yang harus aku
lakukan?"
Lelaki itu tampak
tercenung. Seperti
sedang mengumpulkan
seluruh kesadaran,
mengusir sisa-sisa mimpi
berkarat.
"Membawanya kemari,"
ujarnya dengan suara
serak.
Si pembawa berita
tampak ragu-ragu.
"Aku kakak kandungnya,
Bung! Jadi aku berhak
memanggilnya."
"Jika dia tak mau?"
"Paksa!"
"Jika dia ternyata punya
suami..."
"Masya Allah, aku masih
ingat kata-katamu. Dia
kaulihat berganti-ganti
lelaki. Kudengar darimu
juga, dia pernah
digerebek polisi saat pesta
shabu-shabu, dan
ditebus oleh seseorang..."
Mereka berdua terdiam.
Waktu merambat
menuju saat makan
sahur. Mereka
menyadari, suara keras
percakapan akan
terdengar di bilik kiri dan
kanan.
"Mungkin yang terpenting
adalah bahwa kamu tahu,
dia lari dari rumahku, tapi
tidak pulang ke Yogya
untuk merawat Ibu yang
sudah sepuh. Berbulan-
bulan aku mencarinya,
tanpa berani
menyampaikan secara
jujur kepada Ibu. Aku
mencarinya!"
"Tapi... dia telah
membuatmu terusir dari
jamaah di Al-Hidayah,
mencoreng namamu
sebagai pengurus majelis
ta'lim..."
"Itu tidak penting," Lelaki
itu menahan napas.
Sebersit rasa sedih
melintas ngilu. "Adalah
dosaku jika sampai Peni
terseret ke jurang gelap.
Itu sebabnya aku ingin
menemuinya dalam
bentuk apa pun."
"Baik, aku akan
mencobanya."
"Atau...," Lelaki itu
tampak berpikir. "Begitu
kamu mendapatkannya,
teleponlah aku. Biar aku
yang mendatanginya."
Sang tamu mengangguk
lalu berpamitan. Suara
televisi di bilik sebelah
menyiarkan fragmen
tematik Kampung Lele.
Terdengar tawa
penghuninya yang
tergelitik oleh perdebatan
antara Opie, Mali, dan
Bolot...
SUASANA begitu tegang
saat ia tiba di klinik yang
tersembunyi dalam gang.
Perempuan dengan
rambut masai
memaksakan diri bangkit
dari pembaringan,
menyibak gorden
pembatas dan bergegas
keluar dari kamar.
Langkahnya tertegun di
pintu, tangannya
memegang erat kusen
kayu, menahan rasa sakit
entah di mana. Dalam
pandangan kabur, ia
melihat lelaki yang sangat
dikenalnya. Rasa takut
membuat kepalanya
berkunang-kunang.
Lelaki itu memburunya.
Dipeluknya perempuan
yang limbung itu, jatuh
memberat ke dadanya. Ia
melihat matanya terkatup
rapat, bulu matanya
bergetar. Barangkali
darah mengaliri betis, ke
lantai, basah dan terasa
lengket di telapak kaki
yang terlepas dari sandal.
"Peni...," Lelaki itu panik.
Lalu tatapannya
mengandung nyala
marah kepada seorang
suster yang menciut
ketakutan. "Mana
dokternya?!"
Suster itu menggeleng
dengan paras seputih
kertas.
"Panggil dia! Segera!"
"Dia sudah pergi. Satu
jam yang lalu."
"Aku perlu namanya!" Ia
memanggil temannya.
"Hazri! Tolong catat, juga
alamat praktiknya yang
lain."
Hazri merobek bungkus
rokok, mencabut pulpen
dari sakunya, dan
memandang penuh
tuntutan kepada suster
yang merapat ke dinding.
Terbata-bata bibir
perempuan itu
mengucapkan serangkai
nama dan alamat.
"Peni, bertahanlah," lelaki
itu berbisik di telinga
perempuan yang begitu
lemas dalam pelukan.
Lalu ia kembali
meradang. "Suster, kamu
pasti tahu cara
memanggil ambulans. Di
sini ada telepon, kan?
Cepat, minta ambulans
sekarang!"
Hazri dengan sigap
menuju ke meja yang
memiliki kabel telepon.
Ditelusuri jalur kabel itu
dan menemukan
pesawat telepon
tersembunyi dalam laci.
Ia mengangkat gagang
telepon, dan ketika yakin
ada nada aktif,
diberikannya kepada
suster. "Panggil
ambulans!"
Peni dibaringkan di kursi
ruang tunggu yang
berjajar tiga. Terkulai tak
sadarkan diri. Darah
masih mengalir dari sela-
sela paha. Mencemaskan.
Sekaligus membuat lelaki
itu menyesal. Seharusnya
ia tak perlu selekas itu
datang, sehingga Peni
masih punya waktu
untuk memulihkan diri.
Rasanya berjam-jam
waktu berlalu sampai
terdengar sirine
ambulans. Dua orang
lelaki membawa tempat
tidur beroda memasuki
gang. Hazri menolong
sampai Peni naik ke
dalam ambulans. Dan di
dalam kabin dilakukan
pertolongan pertama,
termasuk memasang
jarum infus ke punggung
tangan Peni. Dari tabung
plastik yang tergantung,
tetes-tetes cairan
mengalir melalui selang
mungil.
Sepanjang perjalanan
menuju rumah sakit,
lelaki itu tidak bicara apa-
apa. Mulutnya hanya
mendesahkan doa.
Berulang kali Hazri
memegang lengannya,
mencoba
menenteramkan. Sesekali
mengucapkan: "Aku
berjanji akan mencari
dokternya dan
melaporkannya kepada
polisi."
Ia tertunduk. Jemari
tangannya mengusap
rambut dan kening Peni.
Matanya basah. Hatinya
terguncang. Apa yang
harus ia katakan kepada
ibunya? Saat membawa
Peni ke Jakarta, ke rumah
kontrakannya, tiga tahun
yang lalu, ia berjanji:
"Peni memang susah
diatur. Di sini dia hanya
akan merepotkan Ibu.
Biar aku yang
mengajarnya. Agar dia
tahu bahwa hidup itu
berat dan harus dilalui
dengan perjuangan. Agar
dia bisa mandiri."
Tapi...apa yang kemudian
terjadi? Lelaki itu
menggeleng sendiri
dengan rasa sakit, seolah
ribuan duri menusuki
setiap permukaan
jantungnya. Ia hanya
memperoleh kegagalan.
Kini seluruh tenaga yang
dicurahkan di tempat
kerja, di pelabuhan yang
panas dan keras, dan sisa
waktunya yang
dihabiskan untuk mencari
keteduhan di lingkungan
masjid, seperti sia-sia
saja. Kenyataannya ia tak
pernah tahu, apa yang
dilakukan Peni sehari-hari
selain menjadi pegawai
administrasi di sebuah
pabrik sepatu. Terutama
setelah enam bulan yang
lalu bersikeras pindah
tempat tinggal, berpisah
dengannya, demi
mendekati tempat kerja.
Namun tak berapa lama
berita tak pantas itu
merebak hingga ke
wilayah Al-Hidayah.
Selanjutnya sungguh
perih untuk diceritakan.
Hanya Hazri, sahabatnya
yang masih dapat
memahami perasaannya.
Lamunannya membuyar
saat ambulans berhenti di
teras Unit Gawat Darurat.
Semua berjalan lekas,
mirip potongan film yang
disunting sembarangan.
Apa pun yang dia lakukan
sekarang, termasuk
menandatangani
perjanjian penggantian
darah dari PMI,
seluruhnya demi Peni.
TAPI Peni sudah mati.
Tanpa percakapan
panjang. Hanya
permohonan maaf, juga
kepada Ibu yang wajib
disampaikan. Inilah
amanat yang sedang ia
bawa ke kampung
halaman.
Ia terisak perlahan.
Ditahannya agar tak
terdengar. Tapi dadanya
penuh oleh benda padat
bernama kesedihan. Atau
mungkin rasa sesal.
"Bangunlah," meski desis
itu tertangkap lemah,
sesungguhnya begitu
tegar. Hanya seorang ibu
yang dapat memadukan
antara sakit hati dan kasih
sayang dengan nyaris
sempurna.
Lelaki yang bersimpuh itu
tak bergerak. Sejak
keberangkatannya dari
Jakarta, ia berharap ada
hukuman untuknya.
Bukan ucapan yang akan
membuatnya merasa
bersalah berkepanjangan.
"Kamu telah melakukan
sesuai dengan
kemampuanmu,"
perempuan tua itu
kembali bicara. Tidak
gemetar seperti yang
diharapkan. Kesunyian
merambat.
Sesungguhnya hanya
tiga tahun dia tak pulang.
Sebelumnya, hampir
setiap tahun ia
mengunjungi Ibu dan
adik satu-satunya, sejak
ayahnya meninggal. Tapi,
tak pernah perasaannya
terusik oleh indahnya
masa kanak-kanak di kota
ini. Kenangan itu kini
memanggilnya.
Panggilan yang begitu
deras. Sederas air
matanya.
"Maafkan aku, Ibu,"
bisiknya tanpa berani
mengangkat wajah. Ia
merasa amat tenteram di
kaki ibunya. Merasa
sangat terlindungi dari
segala marabahaya.
Tercium harum aroma
kasih sayang dari kaki
ibunya, yang
mengalahkan seluruh
hawa busuk di luar sana.
Dan ia bagai kembali ke
masa kanak-kanak.
"Ibu sudah memaafkan
kamu sebelum kamu
mengetuk pintu.
Sekarang kamu ambil air
wudlu, dan segera
berangkat shalat Ied."
Kedua tangan perempuan
tua itu meraih bahu anak
lelakinya. Ketika wajah
tirus itu tengadah,
dilihatnya penuh air mata.
Perlahan ia mencium dahi
lelaki itu, persis di antara
kedua matanya..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar