Entri Populer

Rabu, 29 Desember 2010

KUTUNGGU DATANGMUPUKUL TUJUHGalang Lufityanto

Pukul Tujuh.
Dia pasti sudah ada di
sana menungguku
dengan senyumnya yang
semanis kopi.
Menawarkan pembuka di
pagi yang indah ini.
Kusadari tanpa dia
mungkin pagi-pagiku tak
akan ada artinya.
Kupercepat langkahku.
Tertatih-tatih memanggul
bakul di punggung, juga
tas plastik di tangan.
Berat, namun kuacuhkan.
Kain jarit yang kukenakan
berkelisut dalam langkah
gelisahku. Kuburu waktu.
Meski kaki tuaku yang
selalu jadi tumbalnya.
Namun aku mengeluh
pun tidak. Demi sebuah
awal pagi yang indah.
Dia ada di sana.
Mengenakan seragam
biru-putih yang rapi habis
diseterika. Duduk di
pinggir trotoar. Dekat
tiang rambu lalu lintas,
disandarkan tubuhnya.
Kepalanya menunduk.
Setengah menekuri
sepatu kain bututnya
yang sudah sobek sedikit
di bagian depan �aku
tahu karena bagian itu
bagiku sangat mencolok.
Kepalanya seketika
menoleh.
� Nenek!� Ujarnya girang.
Aku menghampirinya
dengan tak kalah bahagia.
Ketika kuberhenti, baru
kusadari beban di
punggung ternyata
begitu beratnya.
Selalu.�Sudah nunggu
lama ya?�
Anak itu menggeleng.
Diciumnya tanganku.
Takzim. �Nak Adi belum
telat sekolahnya?� Aku
melangkahkan kaki
menginjak aspal,
dibimbing olehnya.
Rambutku tersibak angin
laju mobil yang melintas
di depanku.
�Ah.., biasanya guru
juga telat datang lima
belas menitan. Lagian kan
cuma
tinggal nyeberang. �
Sekolah Adi memang
hanya berada di seberang
jalan ini. Dan jarak
beberapa meter di
sebelahnya ada pasar
tempatku biasa
menjajakan dagangan.
� Maaf ya Nak Adi, kalau
nenek selalu merepotkan.
Nenek takut
menyeberang. � Aku
mencekal lengan Adi erat-
erat. Ia menoleh dan
tersenyum. Kami berada
beberapa meter dari
trotoar. Terkurung dalam
laju mobil-motor yang
terburu-buru. Bus kota
yang tak henti-hentinya
membunyikan klakson.
Rasanya seperti ingin
memejamkan mata.
Ngeri. Motor dan mobil
lalu lalang. Seakan-akan
ingin menabrak atau
melindasku. Ketakutanku
beralasan. Karena
meskipun saat ini aku dan
Adi tengah
menyeberang, tak
satupun dari mereka
yang mengurangi
kecepatannya. Mereka
hanya berkelit
menghindar. Tak jarang
hanya menyisakan ruang
yang teramat sempit.
Desir angin laju
kendaraan yang
menyapu kulit tanganku
membuatku merinding.
Itulah pagi hariku, saat
aku berpikir bisa mati
sewaktu-waktu tertabrak
kendaraan yang menggila
di jalanan.Wess!! Bakulku
sedikit tersambar setang
sepeda yang melintas di
belakangku. Aku menjerit
tertahan. Pengemudi itu
bukannya minta maaf,
eeh � malah mencaci
maki, dengan tanpa
mengurangi
kecepatannya pergi
menjauh.
� Wong edan!!� Umpatku
jengkel. Jantungku
hampir copot
dibuatnya. �Nenek nggak
apa-apa?� Adi
bertanya.Aku
menggeleng. �Pelan-
pelan aja ya, Nak!� Dan
kami meneruskan
berjalan.
� Sudah sampai, Nek!�
Masih saja belum
sembuh dari rasa
keterkejutanku atas
peristiwa tadi. Aku
menepuk-nepuk dadaku
sambil batuk-batuk.
�Duuh nenek ini sudah
tua. Tapi masih saja
sering dikurang ajari.�
Aku melihat ke arah jalan
tempat pengemudi
sepeda tadi kemudian
menghilang. �Orang-
orang sekarang memang
sudah tidak bisa diajari
sopan santun. Coba kalau
semua orang seperti Nak
Adi! �
Adi mengusap-usap
tengkuknya. �Ah�, saya
juga cuma hanya bisa
ini. � �Tapi itu mulia. Lha
kalau nggak ada Nak Adi,
bagaimana nenek bisa
menyeberang jalan setiap
hari? Cuma sedikit orang
yang peduli. Ya �, seperti
Nak Adi ini salah satunya.
Ibu Nak Adi pasti bangga
punya anak hebat. � �Ah
Nenek.., bisa aja!� Muka
Adi memerah. Sementara
itu terdengar suara
gerbang sekolah
didorong. �Eh Nek�,
gerbang hampir ditutup!
Adi masuk dulu ya! � Adi
mencium tanganku
kembali, lalu bersiap pergi.
Aku melambaikan
tangan. �Eeh.., tunggu
dulu! Ini nenek bawakan
jajanan buat Nak Adi. �
�Oh ya, apa Nek?� Mata
Adi membulat.
� Kue onde-onde. Nak Adi
suka kan?�
�Waah�, suka banget!�
Adi menerima
pemberianku. �Terima
kasih!�
�Besok minta dibawain
apa lagi?�
�Apa saja deh, Nek! Yuk
duluan Nek! Sampai
besok pukul tujuh! �
Tubuh kecil itu
menghilang di balik pagar
besi sekolah.
Dan akupun meneruskan
pergi menuju ke pasar
yang hanya berjarak
beberapa langkah kaki
lagi. Aneh. Aku selalu
terlambat menyadari
bahwa bakulku ini terasa
berat. Dan selalu terasa
berat setelah aku
ditinggalkan olehnya
******
Pukul tujuh tepat.
Dan seperti pagi-pagi
biasanya ia menungguku
di trotoar, tempat yang
sama. Senyumnya itu
yang membuatku tidak
dapat mengelakkan
keberadaannya. Adi, anak
SMP yang baru beberapa
minggu lalu
menemukanku dalam
keadaan
kebingungan.�Mau
nyeberang jalan, Nek?
� Aku menatapnya
sekilas. Sedikit takjub ada
yang menewari bantuan.
Maksudku, di antara
puluhan orang yang tidak
peduli kutemui pagi ini,
ada seorang anak kecil
yang menawariku
bantuan. Aneh. Namun
menyenangkan bila itu
benar terjadi.
Ia mungkin menangkap
kebingunganku,
melihatku hanya mondar-
mandir di sepanjang
trotoar. Menanti jalanan
sepi. Atau bagaimana
caranya entah menjadi
sepi. Apakah dengan
tongkat nabi Musa yang
kusabetkan hingga
terbelah jalan yang penuh
kendaraan lalu lalang ini,
dan tercipta ruang
kosong yang cukup bagi
perempuan renta bagiku
untuk lewat? �Nek!� Aku
terjingkat. Dan ketika
sadar aku sudah berada
di tengah jalan. Dan
ketakutanku melanda lagi.
Kueratkan cekalan pada
lengan Adi. Tadi sewaktu
melamun, aku merasa
jauh dari rasa panik.
Mungkin lebih baik
melamun. Tapi tentunya
tidak mungkin kulakukan
tanpa ada Adi yang
memapahku sampai ke
seberang jalan.
Aku menatap ke depan.
Dan punggung Nak Adi
tampak begitu bersinar.
Seperti malaikat. Ia telah
memberikan sayap
padaku. Juga matahari
yang tak begitu tinggi.
Karena aku tidak pernah
kehilangan pagi.
************
Pukul tujuh lebih
seperempat.
Aku mengambil jam
bandul kunoku dari
dalam balutan stagen di
pinggangku. Hanya untuk
meyakinkan diriku,
bahwa waktu telah lewat
beberapa menit sejak
pukul tujuh. Dan
keanehan kurasakan. Nak
Adi tidak ada di tempat
biasanya.
Kemudian aku duduk di
trotoar yang sama
dengan tempat Adi
duduk. Dingin. Namun
hangat di dalam hati.
Kusandarkan tubuhku ke
tiang rambu lalu lintas.
Ah itu dia! Pekikku dalam
hati girang. Sosok Nak
Adi terlihat di kejauhan,
muncul dari balik barisan
orang yang berjalan dari
arah barat. Ia menuju ke
arahku.
Hei! Benarkah yang
kulihat itu? Ada yang
berbeda dari
penampilannya. Aku baru
menyadarinya ketika ia
mulai mendekat. Mataku
yang meski lamur masih
bisa menangkap gaya
rambut Nak Adi yang
berbeda. Rambut belah
tengahnya berganti
menjadi jegrak-jegrak
� naik ke atas. Aku tidak
tahu bagaimana caranya
membuat rambutnya
tegak ke atas. Seakan-
akan direkatkan dengan
lem.
Kacamata yang biasa
dikenakannya pun entah
kemana. Dan sebagai
gantinya matanya kini
berwarna biru seperti
orang barat. Sepertinya ia
mengecat bola matanya
dengan kuteks warna
biru, atau apa aku tidak
tahu.
� Pagi Nak Adi! Ehm�.�
Aku tidak bisa
meneruskan ucapanku.
Masih takjub dengan
penampilannya yang
ajaib.
� Ayo, Nek!� Suaranya
padat, tidak nyaring
seperti biasanya.
Digamitnya tanganku. Ia
benar-benar seperti
orang lain. Juga
langkahnya yang terburu-
buru membuatku terseret
mengikutinya. Aku
hendak protes, namun
ternyata akhirya aku lebih
memilih diam.
Perasaan apa ini? Takut?
�En� entah
ba�bagaimana kalau tidak
ada Nak Adi!� Aku
mencoba untuk
memancing. Tapi
ternyata kailku tak
sampai. Ia sama sekali
tidak bereaksi dengan
ucapanku.
�Nak Adi!�
Ia menoleh. Mukanya
tampak terusik. Tapi tak
lama kemudian ia
melemparkan senyum.
Yang tak tulus.
Meninggalkan gema di
batinku.
Apa yang terjadi?
Kami sampai di seberang
jalan. Dan seperti biasa,
kehidupanku dimulai dari
seberang jalan ini. Aku
mengipas-ngipaskan kain
jarikku setelah tadi
sebuah bus
mengentutkan asap
knalpot tebal di
hadapanku.
Aku mendongakkan
kepala, dalam posisi
badan masih
membungkuk. �Nak Adi ,
nenek bawakan�.� Aku
terdiam. Ternganga.
Nak Adi sudah tidak ada
di sampingku.
********
Keesokan paginya hal
yang aneh terulang lagi.
Rambut Nak Adi masih
sama seperti yang
kemarin. Kupikir-pikir
rambutnya mirip si
Cecep, tokoh salah satu
sinetron di teve. Bedanya
jika Cecep hanya tiga atau
empat bagian yang
dibuat berdiri, Nak Adi
semuanya.
Dia menolak
pemberianku. Dan kue
molen itu teronggok di
tanganku.
�Lalu Nak Adi makan apa
nanti?� Tanyaku lirih.
Sembari
menyembunyikan tanda
tanya besar di hati, juga
resah yang menggelayut.
� Ini!� Adi mengeluarkan
sesuatu dari dalam
tasnya. Aku tahu itu
coklat. Meski tidak bisa
membaca mereknya.
Aku menunduk. Dan
baru kusadari ternyata
sepatu yang dikenakan
Adi pun telah berganti.
Sepatunya kini berwarna
warni, dan kelihatan
meriah.
� Nak Adi sepatunya baru
ya�.� Ucapanku ini lebih
terdengar seperti
gumaman.
� Iya!� Ujarnya
bersemangat. �Bagus,
kan? Ini sedang mode lho!
� Dibolak-balikkan
kakinya.
Aku perlahan
mengangkat kepalaku.
Nak Adi yang ada di
hadapanku seperti bukan
Nak Adi yang biasanya.
Sedikit demi sedikit aku
merasa kehilangannya.
********
Pukul tujuh lebih tiga
puluh menit dan aku
benar-benar
kehilangannya.
Ku duduk di tepi trotoar
sembari menyelonjorkan
kaki. Rambut putihku
berkibar terkena arus
angin laju kendaraan. Dan
dinginnya pagi ini
bertambah dingin.
Menjadi beku ketika yang
kutunggu tak juga datang.
Tiba-tiba seorang lelaki
ajaib yang baik hati �aku
selalu mengira orang baik
di jaman sekarang ini
adalah keajaiban � datang
dan menawarkan
bantuannya untuk
menyeberang.
Aku menggelengkan
kepala.
� Terima kasih Nak! Saya
sedang menunggu cucu
saya. Sebentar lagi ia
datang. �
Lelaki berbaju kotak-kotak
itu mengangguk paham.
Dan ia kemudian
menyeberang jalan.
Kutatapi punggungnya
yang bersinar membelah
keramaian jalan.
Punggung yang
mengecil, dan kemudian
menjadi sebagian kecil.
Dan menghilang.
Dan seperti itulah Nak
Adi, yang semakin lama
semakin menjauh.
Nak Adi.., dimanakah
kamu?
********
Hari ini aku sengaja
berangkat lebih pagi.
Paling tidak aku berpikir
jalanan lebih sepi di awal
pagi. Berjalan meniti
trotoar. Terseok-seok di
antara arus pejalan kaki.
Selalu orang di
belakangku mengeluh
karena jalanku terlalu
pelan dan menghambat
jalannya. Atau bakulku
yang terlalu besar dan
menghalangi
pandangannya.
Aku tidak bisa
menyalahkan kaki tuaku.
Tidak mugkin rasanya
menyalahkan pemberian
Gusti Allah. Dengan kaki
yang sama tubuhku telah
ditopang selama
berpuluh-puluh tahun
lamanya. Dan bukan
alasan yang tepat untuk
kemudian memprotes
agar kakiku dijadikan
muda kembali. Memang
kakiku yang sekarang
sudah peyot dan
berkerut-kerut. Tapi
memang semua benda
memiliki umur. Jika
sudah tua, memangnya
mau diapakan lagi?
Kakiku menginjak trotoar
yang menyisakan penuh
kenangan. Berdiri di sini
� tanganku memegangi
tiang rambu lalu lintas�
ingatanku kembali ke Nak
Adi. Sungguh biarpun
waktu sesungguhnya
telah mengijinkanku
untuk melupakannya,
namun tak bisa
kulakukan.
Tidak ada rasa peyesalan.
Juga marah. Yang ada
hanya kenangan. Juga
perasaan rindu. Karena ia
adalah malaikat yang
dititipkan padaku.
Sudah beberapa minggu
aku tidak bertemu Nak
Adi . Kira-kira sedang apa
ya ia sekarang? Seorang
anak laki-laki datang,
berpakaian biru putih
dengan gaya rambut
belah tengah. Langkah-
langkah itu adalah
langkah yang kukenal.
� Nak Adi!� Jeritku
senang. Bakulku sampai
terlonjak saking
bersemangatnya.
� Ya, ada apa Nek?�
Kening anak itu berkerut
heran.Senyumku raib.
Salah orang rupanya.
Wajah Adi hilang
digantikan wajah seorang
anak yang lain. Jadi
rupanya hanya
perasaanku saja.Mungkin
aku terlalu rindu ya?
Sehingga semua orang
terlihat seperti Nak Adi.
Akhirnya kukuatkan
hatiku, bahwa hari ini aku
mungkin tidak dapat
bertemu Nak Adi. Tapi
masih ada besok. Aku
tersenyum. Harapan
demi harapan kurajut.
Semuanya menjadikan
alasan untukku tetap
bertahan hidup. Pukul
tujuh, janjiku bertemu
dengan Nak Adi. Dan
akan selalu kuingat. Aku
yang tua renta dan
seorang diri �tanpa
suami, keluarga maupun
sanak saudara �
bagaimanapun juga tak
punya hal-hal besar yang
pantas kukenang.
Kulangkahkan kaki turun
ke aspal. Rasanya seperti
meloncat ke dalam
neraka. Meski sebenarnya
jalan tidak terlalu ramai
seperti biasanya.
Kendaraan tidak sepadat
biasanya. Tapi tetap saja
mereka melaju dengan
kecepatan gila-gilaan. Aku
menoleh ke belakang,
barangkali ada orang
yang hendak
menyeberang pula dan
aku bisa ikut serta.
Tapi naas bagiku. Tidak
ada. Selangkah demi
selangkah. Ujung jalan di
depanku hanya beberapa
meter jaraknya dari
tempatku berdiri
sekarang. Tapi terasa
jauh. Pelan tapi pasti,
kakiku merayap.
Satu langkah lagi aku
maju. Saat itu aku sudah
mulai berani. Namun
itupun seketika pupus
demi melihat sebuah
mobil pick-up datang dari
arah sampingku. Jauh
namun datang mendekat
dengan cepatnya.
Melihatku ia sama sekali
tidak memelankan
lajunya. Refleks aku
mundur ke belakang
beberapa langkah, dan�.
�Woi�.,hati-hati!� Sebuah
sepeda motor di
belakangku hampir
menabrakku yang
sedang berjalan mundur.
Aku tidak melihatnya
berkelit dan melewati
ruang sisa di belakang
tubuhku.
Ingin menangis rasanya.
Kepalaku pening. Dalam
waktu yang teramat
singkat ini aku teringat
Adi. Dan semi segala pilu
aku berdoa agar
dipertemukan
dengannya. Yang selalu
melindungiku.
Memberikanku sayap
untuk tetap bertahan
hidup.
Sebuah motor datang
dari arah kejauhan. Aku
letih, menatap motor itu
akan melintas beberapa
meter saja dari
hadapanku. Angin
menerpa rambut
pengendara motor.
Tersibak ke belakang, dan
aku terkejut bercampur
bahagia. Ini bukan
khayalanku semata kan?
� Nak Adi!!� Aku
menghambur senang.
Berlari ke depan.
Menyambutnya dengan
bentangan tangan yang
paling lebar. Dengan
senyum yang paling
indah dari hati yang
sebenarnya telah banyak
tersakiti.
� Nenek awass!!�
Suara itu. Oh�, begitu
kurindu! Kali ini aku tak
mungkin salah.
Aku menatapnya
mendekat kepadaku
dengan penuh kerinduan.
� Awas Adi!� Suara
seorang perempuan
yang berada di atas
boncengan Adi.
Ciiiit!!!! Suara rem
melengking. Disusul
terdengar suara
tubrukan. Tak cukup
jarak untuk membuat
sebuah tragedi terelakkan.
Orang-orang berlarian
mendekat. Lamur aku
menatap wajah Nak Adi
di antara beberapa wajah
asing yang
mengerumuniku. Bakulku
meloncat entah kemana.
Badanku terasa ringan.
Lebih ringan daripada
biasanya. Adakah
perasaan bahagia
membuatku serasa
ringan seperti angin?
Aku tersenyum. Tidak
menyesal atas suatu
apapun. Aku telah
bertemu dengan Nak Adi,
dan itu cukup sudah.
Kututup mata ini dengan
perasaan damai.
Pagi ini, pukul tujuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar